Skip to content

Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim, Petambak Rumput Laut Glacilaria di Bone Budidaya Ikan Nila

📅 May 04, 2021

⏱️5 min read

`

`

Abu Bakar tampak sumringah. Kepala Desa Latonro, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini lalu menunjukkan tiga jarinya yang dirapatkan sebagai tanda ukuran. “Ikannya sudah seperti ini, pertumbuhannya bagus-bagus,” katanya.

Ikan yang dimaksud adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) yang mulai dibudidayakan sejak awal Februari 2021 lalu, di sebuah lahan percontohan milik Abu Bakar. Warga desa memang sedang berupaya melakukan budidaya ikan nila di lahan tambak rumput laut Glacilaria sp. yang mereka miliki. Unik karena ikan nila sendiri merupakan spesies ikan tawar yang coba dibudidayakan di lahan tambak berair asin atau payau.

Dalam sebuah diskusi di Desa Latonro, Rabu (14/4/2021) lalu, Abu Bakar bercerita bahwa budidaya ikan nila ini sebenarnya merupakan bentuk adaptasi mereka terhadap kondisi iklim yang terjadi. Ketika musim hujan maka kondisi air tambak menjadi tawar, sehingga tidak cocok untuk perkembangan Glacilaria.

“Kalau musim hujan tiba, otomatis tambak tak bisa difungsikan, rumput laut tidak bisa berkembang dan malah mati semua. Biasanya ini terjadi dari bulan April hingga Agustus,” katanya.

Kondisi ini, dimana curah hujan lebih tinggi, mulai terjadi sejak 5-6 tahun terakhir. Bukan hanya hujan di Desa Latonro yang jadi masalah, namun juga hujan di daerah danau Tempe, hulu sungai Walanae.

“Kalau curah hujan di danau Tempe tinggi maka air sungai menjadi lebih tawar sehingga tidak bisa digunakan untuk tambak, air tawar akan lebih mendominasi dibanding air asin,” katanya.

Budidaya rumput laut glaciliaria di Desa Latonro menghadapi berbagai tantang, termasuk perubahan iklim, yang membuat produktivitas menurun. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.

Ilham, salah seorang petambak, bercerita bahwa kondisi iklim ini menjadi ironi tersendiri bagi warga, karena air tawar sendiri dibutuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dimana mereka biasanya mengambil air dari sungai menggunakan pipa-pipa. Biasanya kebutuhan air ini untuk kebutuhan MCK. Namun di sisi lain kondisi air sungai yang tawar justru tak bagus bagi tambak.

“Kalau musim kemarau memang bagus untuk tambak namun menjadi masalah tersendiri juga untuk pemenuhan air tawar. Dalam kondisi ini kami biasanya mengambil air dari desa sebelah. Tapi kalau harus memilih, kami lebih memilih krisis air tawar ini dibanding air asin. Tidak masalah harus mengambil air dari jauh,” ujar Ilham.

Menurut Abu Bakar, upaya untuk mengatasi krisis air asin di musim hujan sudah pernah dilakukan. Mereka pernah membuat saluran pipa untuk mengalirkan air asin dari laut ke tambak, namun kurang berhasil karena pipa-pipa mudah rusak terkena serangan tiram. Pendekatan lain dengan cara membuat sumur bor di tambak, mengambil air asin dari bawah, namun airnya justru tawar.

`

`

“Kami juga pernah menaburi berkarung-karung garam ke dalam tambak agar airnya lebih asin, namun cara ini juga kurang begitu berhasil,” katanya.

Menurutnya, pendekatan lain yang cukup efektif adalah dengan menggunakan pompa air, namun cara ini lebih mahal. Tak semua petambak mampu membeli pompa air. Solusi berupa pemberian bantuan melalui kelompok tidak bisa dilakukan karena masih lemahnya kelembagaan di desa tersebut.

“Sebenarnya bisa saja Pemdes memberi bantuan ke setiap petambak pompa air, namun tak ada jaminan bantuan ini digunakan secara efektif. Tak ada jaminan mesin untuk pompa air ini benar-benar digunakan untuk tambak, bisa jadi malah digunakan untuk perahu. Ini masalah mental petambak kita juga sebenarnya,” katanya.

Di dalam tambak rumput laut warga bisa budidaya ikan bandeng, mujair dan kepiting, meskipun kemudian dihadapkan pada masalah penggunaan pestisida yang bisa berdampak pada perkembangan ikan dan kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan tersebut. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.

Terkait kondisi ini, Idham Malik, Aquaculture Specialits WWF Indonesia, menyarankan perlunya penguatan kelembagaan petambak dengan membentuk kelompok tani/nelayan yang berakar dari bawah, bukan bentukan pemerintah atau penyuluh.

“Kalau dibentuk sendiri oleh masyarakat maka akan ada rasa memiliki dan tanggung jawab untuk membangun kelompok, tidak lagi sekedar menunggu arahan pemerintah ataupun dari penyuluhnya, masyarakat bisa lebih terlibat,” katanya.

Terkait budidaya ikan nila, Idham menilai upaya tersebut merupakan solusi yang ditawarkan WWF Indonesia agar petambak bisa memperoleh penghasilan tambahan ketika tambak tak digunakan untuk budidaya Glacilaria.

“Ikan nila ini cukup potensial untuk dikembangkan, apalagi pasarnya masih terbuka luas, cara budidaya juga sederhana. Setidaknya mereka bisa mengisi kekosongan tambak ketika musim hujan. Namun untuk mendorong budidaya ikan nila ini sebagai alternatif ekonomi ini mereka perlu diyakinkan dan dibantu, bisa dengan penyediaan bibit ataupun dengan pendampingan teknis budidaya, ” katanya.

`

`

Penggunaan Pestisida

Isu lain terkait budidaya rumput laut di Desa Latonro adalah penggunaan pestisida untuk membasmi hama berupa keong dan nasse. Serangan hama ini cukup intens di beberapa tambak sehingga petambak kemudian menggunakan pestisida. Umumnya mereka menggunakan pestisida saponin.

Menurut Idham, penggunaan pestisida saponin ini sebenarnya tak cocok digunakan di tambak rumput laut yang juga melakukan budidaya ikan di dalamnya. Selain membasmi hama, racun ini juga bisa meracuni ikan dan bahkan bisa membunuh ikan-ikan yang ada di dalamnya. Dampak lainnya pada isu kesehatan, dimana ikan-ikan bandeng dan mujair yang dibudidayakan akan dikonsumsi manusia.

Menurut Abu Bakar, penggunaan pestisida ini memang menjadi masalah tersendiri karena memiliki dampak jangka panjang, terkait keberlanjutan budidaya kepiting dan udang di desa tersebut.

“Dulu di daerah ini banyak ditemukan bibit-bibit kepiting dan udang, sangat melimpah, namun perlahan habis karena tercemari pestisida buangan dari tambak,” katanya.

Desa Latonro sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kepiting bakau di Kabupaten Bone. Biasanya warga mencari bibit kepiting sekitar sungai, di sela-sela pohon nipah yang membentang sepanjang daerah aliran sungai.

“Kalau dulu memang kepiting sangat melimpah karena bibitnya banyak ditemukan sekitar sini, namun memang perlahan mulai berkurang beberapa tahun terakhir. Apalagi dulu juga sempat ada yang datang menggunakan stroom untuk menangkap ikan dan kepiting, yang justru menghancurkan ekosistem kepiting dan udang-udang yang ada di sini,” tambah Abu Bakar.

Idham sendiri menawarkan penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk mengatasi kondisi ini. Penggunaan pupuk dan pestisida organik yang diproduksi sendiri sekaligus mengatasi kondisi kelangkaan pupuk yang terjadi selama ini.

“Kami sudah pernah lakukan di beberapa daerah di Sulsel untuk budidaya udang dan cukup berhasil. Ini bisa sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk yang terjadi saat ini, sekaligus ini bagus untuk perbaikan tambak,” katanya.

Mata pencaharian utama warga

Kehadiran budidaya rumput laut di Desa Latonro telah memberi dampak positif bagi perekonomian warga Desa Latonro. Sebuah studi yang dilakukan oleh WWF Indonesia menunjukkan bahwa manfaat budidaya rumput laut ini tidak hanya bagi petambak semata, namun juga menciptakan jenis pekerjaan baru, yaitu buruh panen dan pengering, pengusaha pengepul, penjual pupuk, dan jasa transportasi.

Petambak dengan luas tambak 2-3 hektar memang masih tergolong dalam kategori subsisten, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun kondisi ini bisa tertutupi melalui budidaya bandeng, mujair dan kepiting.

Meski menghadapi beragam persoalan, petambak tetap berupaya bertahan, karena rumput laut Glacilaria dianggap masih memiliki prospek lebih baik di masa yang akan datang.

“Kami berupaya bertahan sepanjang masih menjanjikan, apalagi budidaya rumput laut ini sebenarnya mudah, namun memang masalah ada di harga dan produktivitas yang terus menurun. Kami berharap ada solusi yang lebih baik di masa yang datang,” ungkap Ilham.

`

`
← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News