Skip to content

Energi terbarukan memberi Indonesia keunggulan dalam pencarian iklim

📅 June 15, 2021

⏱️2 min read

`

`

Indonesia dapat memanfaatkan potensinya dalam energi terbarukan untuk memenuhi komitmen negara terhadap kesepakatan iklim Paris dan mengurangi ketergantungannya pada tenaga berbasis batu bara, menurut para analis.

kilang minyak Balongan

Ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini bertujuan untuk memangkas emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030. Perusahaan Listrik Negara mengatakan pada bulan Mei bahwa mereka akan berhenti membangun pembangkit listrik tenaga batu bara setelah tahun 2023 untuk memenuhi tujuan netralitas karbon Indonesia.

Sisilia Nurmala Dewi, ketua tim Indonesia dari organisasi lingkungan internasional 350.org, menyambut baik langkah perusahaan tersebut pada batu bara tetapi menyebutnya "tidak cukup" untuk memenuhi tujuan iklim Indonesia.

Antara sekarang dan 2023, konstruksi diharapkan lebih banyak pembangkit termal baru, kemungkinan mengunci lebih banyak emisi karbon selama beberapa dekade mendatang, kata Dewi.

Fabby Tumiwa, direktur eksekutif think tank Institute for Essential Services Reform di Jakarta, mengatakan akan sulit bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara murah.

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Ini menghasilkan 550 juta ton batubara pada tahun 2020, lebih dari 70 persen di antaranya diekspor. Batubara menyumbang sekitar 60 persen dari pembangkit listrik di Indonesia.

"Kami memiliki terlalu banyak batu bara di sistem (listrik), sehingga tidak mudah untuk melarikan diri dari jalur ini," kata Tumiwa.

Namun Tumiwa optimistis Indonesia dapat disingkirkan dari batu bara dengan berinvestasi pada energi terbarukan. Dia memperkirakan bahwa jika Indonesia membangun tambahan 10 gigawatt kapasitas energi terbarukan setiap tahun hingga tahun 2030, negara tersebut dapat mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

`

`

Sistem perdagangan karbon

Rida Mulyana, direktur jenderal kelistrikan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan pada sidang parlemen pada 27 Mei bahwa Indonesia berencana untuk menawarkan insentif energi terbarukan, mengenakan pajak karbon dan mengembangkan sistem perdagangan.

Energi terbarukan menyumbang 12,2 persen dari total pembangkit listrik antara tahun 2015 dan 2019. Indonesia memasang 10.491 GW kapasitas terbarukan pada tahun 2020, hanya meningkat 88 MW dibandingkan tahun 2019.

“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang kaya,” kata Dewi. Dengan sumber daya energi surya yang melimpah, negara ini dapat menciptakan infrastruktur energi yang lebih ramah iklim."

“Kombinasi solar photovoltaic, baterai, elektroliser berbiaya rendah, dan potensi surya yang sangat besar di seluruh nusantara yang semakin kompetitif akan menjadikan solar PV (photovoltaic) sebagai sumber utama pembangkit listrik di Indonesia pada tahun 2050,” kata Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. .

Sebagai penandatangan Perjanjian Paris 2015, Indonesia telah berjanji untuk mengurangi emisi karbon untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2 C.

`

`
← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News