Skip to content

Ilmuwan iklim : konsep “net zero” adalah perangkap berbahaya

📅 May 18, 2021

⏱️24 min read

`

`

Terkadang kesadaran datang tiba-tiba. Hal yang kabur mendadak jadi masuk akal.

Di balik kesadaran ini, biasanya ada proses yang sangat lambat.

Keraguan pun tumbuh di pikiran.

Kebingungan akan segala hal yang tidak bisa pas satu sama lain meningkat, hingga ada yang berubah.

Ketiga penulis artikel ini, secara kolektif, telah menghabiskan lebih dari 80 tahun untuk meneliti perubahan iklim.

Mengapa butuh waktu lama bagi kami untuk berbicara tentang bahaya dari konsep net zero (nol bersih)?

Argumen pembelaan kami adalah bagi kami awalnya dasar pemikiran nol bersih terlihat seperti sederhana. Dan, kami pun tertipu.

Ancaman perubahan iklim merupakan akibat langsung dari terlalu banyak karbon dioksida di atmosfer.

Oleh karena itu, kita harus berhenti mengeluarkan lebih banyak dan bahkan menghilangkan sebagian.

Ide ini adalah inti dari rencana dunia saat ini untuk menghindari bencana.

Ada banyak saran untuk melakukan ini, mulai dari penanaman pohon massal hingga teknologi tinggi penangkapan udara secara langsung, suatu perangkat yang menyedot karbon dioksida dari udara.

Konsensus saat ini adalah bahwa jika kita menerapkan ini dan teknik “penghilangan karbon dioksida” pada saat yang sama mengurangi pembakaran bahan bakar fosil, kita dapat lebih cepat menghentikan pemanasan global.

Harapannya, kita akan mencapai “nol bersih” pada pertengahan abad ini.

Nol bersih adalah titik di mana sisa emisi gas rumah kaca diseimbangkan oleh teknologi yang menghilangkannya dari atmosfer.

Pabrik Climeworks dengan traktor di latar depan

Fasilitas untuk menangkap karbon dioksida dari udara di atap pabrik pembakaran sampah di Hinwil, Swiss, tanggal 18 Juli 2017. Ini adalah salah satu dari sedikit proyek yang saat ini beroperasi. REUTERS/Arnd Wiegmann

Pada prinsipnya, ini adalah ide yang bagus.

Sayangnya, dalam praktiknya, ini menumbuhkan keyakinan atas keselamatan melalui teknologi dan menurunkan kedaruratan untuk memangkas emisi saat ini.

Kami telah sampai pada kesadaran yang menyakitkan bahwa gagasan nol bersih telah menghasilkan pendekatan sembrono, “bakar sekarang, bayar nanti”, dengan melihat emisi karbon terus melonjak.

Ini juga mempercepat kerusakan alam dengan kenaikan deforestasi dan sangat meningkatkan risiko kehancuran lebih lanjut di masa depan.

Untuk memahami bagaimana ini terjadi, bagaimana manusia mempertaruhkan peradaban hanya dengan janji-janji solusi di masa depan, kita harus kembali ke akhir 1980-an, ketika perubahan iklim masuk ke panggung internasional.

`

`

Langkah menuju nol bersih

Tanggal 22 Juni 1988, James Hansen adalah administrator di Goddard Institute for Space Studies, NASA, - jabatan bergengsi tetapi tidak banyak dikenal di luar akademisi.

Pada tanggal 23 sore, James Hansen akan menjadi ilmuwan iklim terkenal di dunia.

Ini adalah dampak dari kesaksiannya kepada kongres AS, ketika ia mempresentasikan, secara forensik, bukti iklim Bumi menghangat karena manusia : “Efek rumah kaca telah terdeteksi dan sedang mengubah iklim kita.”

Jika kita bertindak berdasarkan kesaksian James Hansen saat itu, kita akan dapat dekarbonisasi sekitar 2% per tahun untuk memberi kita sekitar dua-dari-tiga kesempatan untuk membatasi pemanasan tidak lebih dari 1,5°C.

Hal tersebut akan menjadi tantangan besar, tetapi tugas utama saat itu adalah hanya memperlambat penggunaan bahan bakar fosil sambil berbagi jatah emisi di masa depan secara adil.

[Alt text

](https://images.theconversation.com/files/392826/original/file-20210331-15-4x9q0r.png?ixlib=rb-1.1.0&q=45&auto=format&w=1000&fit=clip)

Grafik yang menunjukkan seberapa cepat mitigasi harus terjadi untuk mempertahankan 1,5℃. © Robbie Andrew, CC BY

Empat tahun kemudian, ada secercah harapan bahwa ini akan mungkin terjadi.

Selama KTT Bumi di Rio tahun 1992 , semua negara setuju untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca untuk memastikan bahwa mereka tidak menimbulkan gangguan berbahaya pada iklim.

KTT Kyoto tahun 1997 berusaha untuk mempraktikkan tujuan tersebut. Namun, seiring berlalunya waktu, tugas awal untuk menjaga manusia tetap aman menjadi semakin sulit mengingat penggunaan bahan bakar fosil yang terus meningkat.

Saat itu, modeling komputer pertama menghubungkan emisi gas rumah kaca dengan dampak pada berbagai sektor ekonomi mulai dikembangkan.

Model ekonomi-iklim hibrid ini dikenal sebagai Model Penilaian Terpadu.

Model ini menghubungkan aktivitas ekonomi dengan iklim dengan, misalnya, mengeksplorasi bagaimana perubahan dalam investasi dan teknologi dapat menyebabkan perubahan emisi gas rumah kaca.

Ini seperti keajaiban: Anda memasukkan suatu kebijakan di layar komputer sebelum menerapkannya, menyelamatkan manusia dari eksperimen yang mahal.

Model ini secara cepat berkembang sebagai pedoman utama kebijakan iklim. Keutamaan yang masih dipertahankan hingga hari ini.

Sayangnya, mereka juga menghilangkan kebutuhan akan pemikiran kritis yang mendalam.

Model tersebut mewakili masyarakat sebagai jaringan yang diidealkan, pembeli dan penjual tanpa emosi dan akhirnya mengabaikan realitas sosial dan politik yang kompleks, atau bahkan dampak perubahan iklim itu sendiri.

Janji yang tersirat adalah pendekatan berbasis pasar akan selalu berhasil. Artinya, diskusi tentang kebijakan terbatas pada posisi yang paling nyaman bagi politisi: perubahan bertahap pada undang-undang dan pajak.

Saat pertama kali model ini dikembangkan, banyak upaya sedang dilakukan untuk mengamankan tindakan AS terhadap iklim dengan menghitung penyerap karbon dari hutan negara.

AS berargumen bahwa jika mengelola hutan dengan baik, akan menyimpan karbon dalam jumlah besar di pohon dan tanah, sehingga harus dikurangi dari kewajiban untuk membatasi pembakaran batu bara, minyak dan gas.

Pada akhirnya, AS berhasil dengan alasan ini.

Ironisnya, semua konsesi tersebut sia-sia karena senat AS tidak pernah meratifikasi perjanjian.

Pemandangan udara dari dedaunan musim gugur

Hutan seperti ini di Maine, AS, tiba-tiba dihitung dalam anggaran karbon sebagai insentif bagi AS untuk bergabung dengan Perjanjian Kyoto. Inbound Horizons/Shutterstock

Mendalilkan masa depan dengan lebih banyak pohon dapat mengimbangi pembakaran batu bara, minyak dan gas sekarang.

Modeling dapat dengan mudah menghasilkan angka karbon dioksida di atmosfer turun serendah yang diinginkan, skenario yang lebih canggih yang mengurangi persepsi urgensi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Dengan memasukkan penyerap karbon dalam model ekonomi-iklim, kotak Pandora telah dibuka.

Di sinilah kita menemukan asal mula kebijakan “nol bersih” saat ini.

Namun demikian, sebagian besar perhatian pada pertengahan 1990-an difokuskan pada peningkatan efisiensi energi dan peralihan energi (seperti Inggris yang berpindah dari batu bara ke gas) dan potensi energi nuklir untuk menghasilkan listrik bebas-karbon dalam jumlah besar.

Harapannya, inovasi semacam itu dapat dengan cepat membalikkan peningkatan emisi bahan bakar fosil.

Namun, menjelang pergantian milenium baru, sangat jelas bahwa harapan seperti itu tidak berdasar.

Mengingat asumsi utama tentang perubahan bertahap, semakin sulit bagi model ekonomi-iklim untuk menemukan jalur untuk menghindari perubahan iklim.

Model tersebut pun mulai menyertakan lebih banyak contoh penangkapan dan penyimpanan karbon, sebuah teknologi yang dapat menghapus karbon dioksida dari pembangkit listrik tenaga batu bara dan kemudian menyimpan karbon yang ditangkap jauh di bawah tanah.

Pipa dan tumpukan logam di lokasi pabrik di bawah langit kelabu

Tomakomai, lokasi uji penangkapan dan penyimpanan karbon, di Hokkaido, Jepang, Maret 2018. Selama tiga tahun masa pakai, proyek ini diharapkan akan menangkap sekitar 1/100.000 dari emisi tahunan global saat ini. Karbon yang ditangkap akan disalurkan ke endapan geologis jauh di bawah dasar laut di mana akan disimpan selama berabad-abad. REUTERS/Aaron Sheldrick

Ini telah dibuktikan memungkinkan secara prinsip: karbon dioksida terkompresi telah dipisahkan dari gas fosil dan disuntikkan ke bawah tanah dalam sejumlah proyek sejak tahun 1970-an.

Skema Enhanced Oil Recovery ini dirancang untuk memaksa gas masuk ke dalam sumur minyak untuk mendorong minyak ke arah rig pengeboran dan memungkinkan lebih banyak untuk dipulihkan, minyak yang nantinya akan dibakar, melepaskan lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer.

Penangkapan dan penyimpanan karbon menawarkan perubahan bahwa alih-alih menggunakan karbon dioksida untuk mengekstraksi lebih banyak minyak, gas dapat ditinggalkan di bawah tanah dan dihilangkan dari atmosfer.

Teknologi ini memungkinkan batubara ramah iklim dan karenanya penggunaan bahan bakar fosil ini terus berlanjut.

Tetapi, jauh sebelum dunia menyaksikan skema seperti itu, proses hipotetis telah dimasukkan dalam model ekonomi-iklim.

Pada akhirnya, prospek penangkapan dan penyimpanan karbon memberi para pembuat kebijakan jalan keluar untuk melakukan penurunan emisi gas rumah kaca yang sangat dibutuhkan.

`

`

Kemunculan nol bersih

Ketika komunitas internasional berkumpul di Kopenhagen pada tahun 2009, jelas bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon tidak akan cukup karena dua alasan.

Pertama, teknologi belum ada.

Tidak ada fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon yang beroperasi di pembangkit listrik tenaga batu bara dan tidak ada prospek bahwa teknologi itu akan berdampak pada peningkatan emisi dari penggunaan batu bara di masa mendatang.

Hambatan terbesar untuk implementasi pada dasarnya adalah biaya.

Motivasi untuk membakar batubara dalam jumlah besar adalah untuk menghasilkan listrik yang relatif murah.

Retrofit carbon scrubber (alat untuk menyerap karbon dioksida) pada pembangkit listrik yang ada, membangun infrastruktur untuk menyalurkan karbon yang ditangkap, dan mengembangkan lokasi penyimpanan geologis yang sesuai, membutuhkan uang dalam jumlah besar.

Akibatnya, satu-satunya aplikasi penangkapan karbon yang bekerja saat itu - dan sekarang - adalah menggunakan gas yang terperangkap dalam skema Enhanced Oil Recovery.

Di luar dari satu proyek percontohan, tidak pernah ada penangkapan karbon dioksida dari cerobong pembangkit listrik tenaga batu bara dengan karbon yang disimpan di bawah tanah.

Pada tahun 2009, menjadi semakin jelas bahwa pengurangan bertahap tidak akan mungkin dilakukan seperti yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

Itu terjadi bahkan jika penangkapan dan penyimpanan karbon aktif dan berjalan. Jumlah karbon dioksida yang dipompa ke udara setiap tahun membuat manusia kehabisan waktu dengan cepat.

Berharap solusi untuk krisis iklim memudar lagi, perlu solusi ajaib lainnya.

Sebuah teknologi dibutuhkan tidak hanya untuk memperlambat peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, tetapi juga membalikkannya.

Komunitas pemodelan ekonomi-iklim - yang sudah dapat memasukkan penyerap karbon nabati dan penyimpanan karbon geologis dalam model mereka - semakin mengadopsi “solusi” untuk menggabungkan keduanya.

Jadi, Penangkapan dan Penyimpanan Karbon berbasis Bioenergi, atau BECCS, dengan cepat muncul sebagai teknologi penyelamat baru.

Dengan membakar biomassa yang “dapat diganti” seperti kayu, tanaman, dan limbah pertanian, bukannya batu bara, di pembangkit listrik, dan menangkap karbon dioksida dari cerobong pembangkit listrik dan menyimpannya di bawah tanah, BECCS dapat menghasilkan listrik sekaligus menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer.

Ini karena biomassa, seperti pohon bertumbuh, mereka menyedot karbon dioksida dari atmosfer.

Dengan menanam pohon dan tanaman bioenergi lainnya dan menyimpan karbon dioksida yang dilepaskan saat dibakar, lebih banyak karbon dapat dihilangkan dari atmosfer.

Dengan solusi baru ini, komunitas internasional berkumpul kembali dari kegagalan berulang kali untuk melakukan upaya lain untuk mengekang gangguan iklim.

Adegan penting tersebut itu ditetapkan saat konferensi iklim tahun 2015, di Paris.

`

`

Fajar palsu di Paris

Saat Sekretaris Jendral mengakhiri konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-21 tentang perubahan iklim, suara gemuruh terdengar dari kerumunan.

Orang-orang melompat, saling berpelukan, air mata berlinang dari mata kemerahan akibat kurang tidur.

Emosi pada 13 Desember 2015 bukan hanya untuk kamera.

Setelah berminggu-minggu, negosiasi tingkat tinggi yang melelahkan di Paris, mencapai sebuah terobosan.

Setelah kesalahan awal dan kegagalan selama puluhan tahun, komunitas internasional akhirnya setuju untuk melakukan apa yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global jauh di bawah 2°C, lebih baik lagi hingga 1,5°C, dibandingkan dengan tingkat pra-industri.

Perjanjian Paris adalah kemenangan yang menakjubkan bagi mereka yang paling berisiko terhadap dampak perubahan iklim.

Negara-negara industri kaya akan semakin terpengaruh dengan kenaikan suhu global.

Tetapi, negara-negara pulau dataran rendah, seperti Maladewa dan Kepulauan Marshall, berada pada risiko tinggi.

Seperti yang dijelaskan oleh laporan khusus PBB, jika Perjanjian Paris tidak dapat membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, jumlah nyawa yang hilang akibat badai yang lebih hebat, kebakaran, gelombang panas, kelaparan dan banjir akan meningkat secara signifikan.

Tetapi, Anda bisa menemukan emosi lain yang bersembunyi pada delegasi pada 13 Desember. Keraguan.

Kami kesulitan menemukan ilmuwan iklim mana yang pada saat itu menganggap Perjanjian Paris bisa dilakukan.

Kami telah diberitahu oleh beberapa ilmuwan bahwa Perjanjian Paris “tentu saja penting untuk keadilan iklim, tetapi tidak dapat dijalankan” dan “sangat mengejutkan, tidak ada yang berpikir bahwa pembatasan hingga 1,5°C mungkin dilakukan”.

Alih-alih dapat membatasi pemanasan hingga 1,5°C, seorang akademisi senior yang terlibat dalam IPCC menyimpulkan bahwa kita telah melampaui 3°C pada akhir abad ini.

Alih-alih menghadapi keraguan kami, para ilmuwan memutuskan untuk membangun dunia fantasi yang lebih rumit di mana kami akan aman.

Harga yang harus dibayar untuk kepengecutan kita: harus tutup mulut tentang absurditas yang terus meningkat dari penghapusan karbon dioksida skala planet yang diperlukan.

Yang menjadi pusat perhatian adalah BECCS, karena ini adalah satu-satunya cara model ekonomi-iklim dapat menemukan skenario yang akan konsisten dengan Perjanjian Paris.

Bukannya menstabilkan, emisi karbon dioksida global telah meningkat sekitar 60% sejak 1992.

BECCS, seperti semua solusi sebelumnya, terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Dari seluruh skenario yang dihasilkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dengan peluang 66% atau lebih baik untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C, BECCS perlu menghilangkan 12 miliar ton karbon dioksida setiap tahun.

BECCS pada skala ini akan membutuhkan skema penanaman besar-besaran untuk pohon dan tanaman bioenergi.

Bumi pasti membutuhkan lebih banyak pohon. Manusia telah menebang sekitar tiga triliun, sejak pertama kali mulai bertani sekitar 13.000 tahun yang lalu.

Tetapi, alih-alih membiarkan ekosistem pulih dari dampak manusia dan hutan untuk tumbuh kembali, BECCS umumnya mengacu pada perkebunan skala industri yang dipanen secara teratur untuk bioenergi daripada karbon yang disimpan di batang hutan, akar dan tanah.

Saat ini, dua biofuel yang paling efisien adalah tebu untuk bioetanol dan minyak sawit untuk biodiesel - keduanya ditanam di daerah tropis.

Barisan tak berujung pohon monokultur yang tumbuh cepat atau tanaman bioenergi lainnya yang dipanen secara berkala merusak keanekaragaman hayati.

Diperkirakan BECCS akan memerlukan antara 0,4 dan 1,2 miliar hektare lahan.

Ini artinya sekitar 25% hingga 80% dari semua tanah yang saat ini digarap.

Bagaimana bisa mencapai itu dan saat yang sama memberi makan 8-10 miliar orang pertengahan abad ini atau tanpa menghancurkan vegetasi asli dan keanekaragaman hayati?

Menanam miliaran pohon akan menghabiskan jumlah air yang sangat besar - di beberapa tempat di mana orang sudah kekurangan air.

Meningkatnya tutupan hutan di lintang yang lebih tinggi dapat memiliki efek pemanasan secara keseluruhan karena mengganti padang rumput atau ladang dengan hutan berarti permukaan tanah menjadi lebih gelap.

Tanah yang lebih gelap ini menyerap lebih banyak energi dari matahari sehingga suhu meningkat.

Berfokus pada pengembangan perkebunan yang luas di negara tropis yang lebih miskin disertai risiko orang-orang diusir dari tanah mereka.

Dan, sering dilupakan bahwa pepohonan dan tanah pada umumnya telah menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar melalui apa yang disebut penyerap karbon terestrial alami.

Gangguan terhadap penyerap karbon ini akan mengacaukan penyerapan dan menyebabkan penghitungan ganda.

Karena dampak ini semakin dipahami, rasa optimisme di sekitar BECCS telah berkurang.

`

`

Mimpi belaka

Karena kesadaran betapa sulitnya Paris mengingat emisi yang terus meningkat dan potensi BECCS yang terbatas, kata kunci baru muncul di lingkaran kebijakan: “skenario melampaui batas”.

Suhu akan dibiarkan melampaui 1,5°C dalam waktu dekat, tetapi kemudian diturunkan dengan berbagai penghilangan karbon dioksida pada akhir abad ini.

Artinya, nol bersih sebenarnya berarti karbon negatif.

Dalam beberapa dekade, kita perlu mengubah peradaban manusia dari yang saat ini mengeluarkan 40 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahun menjadi peradaban yang menghasilkan pembuangan bersih puluhan miliar.

Penanaman pohon massal, untuk bioenergi atau sebagai upaya penggantian (offset), telah menjadi upaya terbaru untuk menunda penghentian penggunaan bahan bakar fosil.

Tetapi, kebutuhan yang terus meningkat untuk menghilangkan karbon menuntut lebih banyak.

Inilah mengapa ide berkembang tentang penangkapan udara langsung, sekarang sedang dipuji oleh beberapa orang, sebagai teknologi paling menjanjikan di luar sana.

Ini umumnya lebih ramah bagi ekosistem karena membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit untuk beroperasi daripada BECCS, termasuk lahan yang dibutuhkan untuk memberi tenaga menggunakan angin atau panel surya.

Sayangnya, penangkapan udara langsung, karena biaya dan kebutuhan energi yang tinggi, jika layak untuk diterapkan dalam skala besar, tidak akan dapat bersaing dengan BECCS yang menyedot lahan pertanian.

Seorang pria merawat tanaman di rumah kaca

The Climeworks Gebr. Rumah Kaca Meier di Hinwil, Zurich. CO2 meningkatkan hasil panen dari penangkapan udara langsung. Proyek-proyek semacam itu mendemonstrasikan kemungkinan penerapan yang menarik untuk karbon yang ditangkap, tetapi tidak ada kemungkinan mereka akan memiliki dampak yang terukur dalam mengurangi pemanasan global. Orjan Ellingvag/Alamy

Sekarang seharusnya sudah jelas ke mana arahnya.

Saat fatamorgana dari setiap solusi teknis yang ajaib menghilang, alternatif lain, yang juga tidak bisa dijalankan, muncul untuk menggantikannya.

Yang berikutnya, sudah di depan mata dan bahkan lebih mengerikan.

Setelah kami menyadari nol bersih tidak akan terjadi pada waktunya atau bahkan sama sekali, geoengineering - intervensi skala besar dalam sistem iklim Bumi - mungkin akan digunakan sebagai solusi untuk membatasi peningkatan suhu.

Salah satu ide geoengineering yang paling banyak diteliti adalah manajemen radiasi matahari, injeksi jutaan ton asam sulfat ke stratosfer yang akan memantulkan sebagian energi matahari dari Bumi .

Ini adalah ide yang liar, tetapi beberapa akademisi dan politikus sangat serius, meski ada risiko yang signifikan.

Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS, misalnya, telah merekomendasikan mengalokasikan hingga US$200 juta selama lima tahun ke depan untuk mengeksplorasi bagaimana geoengineering dapat diterapkan dan diatur.

Pendanaan dan penelitian di bidang ini pasti akan meningkat secara signifikan.

`

`

Kejujuran yang sulit

Pada prinsipnya, tidak ada yang salah atau berbahaya tentang proposal penghapusan karbon dioksida.

Faktanya, mengembangkan cara-cara untuk mengurangi konsentrasi karbon dioksida bisa terasa sangat menggairahkan.

Anda menggunakan sains dan teknik untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana. Apa yang Anda lakukan itu penting.

Ada juga realisasi bahwa penghilangan karbon akan dibutuhkan untuk mengurangi sebagian emisi dari sektor-sektor, seperti penerbangan dan produksi semen.

Jadi, akan ada peran kecil untuk sejumlah pendekatan penghilangan karbon dioksida yang berbeda.

Masalah muncul ketika diasumsikan bahwa ini dapat diterapkan dalam skala besar.

Ini secara efektif berfungsi sebagai cek kosong untuk melanjutkan pembakaran bahan bakar fosil dan percepatan perusakan habitat.

Teknologi pengurangan karbon dan geoengineering harus dilihat sebagai semacam kursi pelontar yang dapat mendorong umat manusia menjauh dari perubahan lingkungan yang cepat dan dahsyat.

Sama seperti kursi pelontar di pesawat jet, ini hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir.

Namun, pembuat kebijakan dan bisnis tampaknya sepenuhnya serius untuk menerapkan teknologi yang sangat spekulatif sebagai cara untuk membawa peradaban kita ke tujuan yang berkelanjutan.

Padahal, ini tidak lebih dari dongeng.

Kerumunan anak muda memegang plakat

‘There is no Planet B’: anak-anak di Birmingham, Inggris, memprotes krisis iklim. Callum Shaw/Unsplash, FAL

Satu-satunya cara untuk menjaga keselamatan umat manusia adalah dengan pengurangan radikal dan berkelanjutan terhadap emisi gas rumah kaca dengan cara yang adil secara sosial.

Para akademisi biasanya melihat diri mereka sebagai pelayan masyarakat. Memang banyak yang dipekerjakan sebagai pegawai publik.

Mereka yang bekerja di bidang ilmu iklim dan kebijakan mati-matian bergumul dengan masalah yang semakin sulit.

Demikian pula, mereka yang memperjuangkan nol bersih sebagai cara menerobos penghalang yang menahan tindakan efektif terhadap iklim juga bekerja dengan niat terbaik.

Tragisnya adalah upaya kolektif mereka tidak pernah mampu memberikan tantangan yang efektif terhadap proses kebijakan iklim yang hanya akan memungkinkan eksplorasi skenario yang sempit.

Kebanyakan akademisi merasa sangat tidak nyaman melewati garis yang memisahkan pekerjaan harian mereka dari masalah sosial dan politik yang lebih luas.

Ada ketakutan yang nyata bahwa dilihat sebagai pendukung atau penentang isu tertentu dapat mengancam independensi mereka. Ilmuwan adalah salah satu profesi terpercaya. Kepercayaan sulit dibangun dan mudah dihancurkan.

Tetapi, ada garis lain yang tidak terlihat, yang menjaga integritas akademik dan sensor diri.

Sebagai ilmuwan, kami diajarkan untuk bersikap skeptis, untuk mengarahkan hipotesis ke tes dan interogasi yang ketat.

Tetapi, ketika sampai pada tantangan terbesar yang mungkin dihadapi umat manusia, kami sering menunjukkan kurangnya analisis kritis.

Secara pribadi, para ilmuwan menyatakan skeptisisme yang signifikan tentang Perjanjian Paris, BECCS, offsetting, geoengineering, dan net zero.

Terlepas dari beberapa pengecualian penting, di depan umum, kami melakukan pekerjaan kami, mendaftar untuk pendanaan, menerbitkan makalah, dan mengajar.

Jalan menuju bencana perubahan iklim telah dilapisi dengan studi kelayakan dan penilaian dampak.

Alih-alih mengakui keseriusan situasi, kami malah terus berpartisipasi dalam fantasi net zero.

Apa yang akan kita lakukan saat kenyataan pahit menerpa? Apa yang akan kita katakan kepada teman dan orang yang kita cintai tentang kegagalan untuk berbicara sekarang?

Spanduk bertuliskan 'Tell the truth 2050 is too late'

Seorang wanita muda memprotes target Inggris untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050, yang diyakini banyak orang sudah terlambat. Essex, Inggris, 10 Agustus 2020. Avpics/Alamy

Waktunya telah tiba untuk menyuarakan ketakutan kita dan jujur kepada masyarakat yang lebih luas.

Kebijakan nol bersih saat ini tidak akan mampu mempertahankan kenaikan suhu di bawh 1,5°C karena memang tidak dimaksudkan untuk itu.

Kebijakan ini dari dulu dan hingga kini masih didorong oleh kebutuhan untuk melindungi bisnis seperti biasa, bukan iklim.

Jika kita ingin menjaga keselamatan manusia, maka pengurangan emisi karbon dalam jumlah besar dan berkelanjutan perlu dilakukan sekarang.

Ini adalah ujian yang sangat sederhana yang harus diterapkan pada semua kebijakan iklim. Masa untuk berangan-angan telah berakhir.

`

`
← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News