Skip to content

Indonesia menghukum mati enam narapidana atas kerusuhan 2018 dan krisis sandera

📅 April 23, 2021

⏱️1 min read

JAKARTA - Indonesia telah menghukum mati enam narapidana karena keterlibatan mereka dalam kerusuhan 2018 yang mematikan dan krisis sandera di penjara dengan keamanan maksimum, kata seorang pejabat pengadilan pada Kamis (22 April), sebuah insiden yang dijelaskan oleh pejabat keamanan pada saat itu sebagai "tindakan teror".

Kerusuhan di penjara dengan keamanan maksimum menewaskan lima anggota pasukan elit anti-terorisme.Kerusuhan di penjara dengan keamanan maksimum menewaskan lima anggota pasukan elit anti-terorisme. FOTO: JARINGAN BERITA POS / ASIA JAKARTA

Kerusuhan di fasilitas penahanan Mako Brimob di Depok di pinggiran Jakarta mengakibatkan tewasnya lima anggota detasemen pasukan elit kontra-terorisme Indonesia, Densus 88, selama perselisihan 36 jam.

Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum enam narapidana pada Rabu malam di bawah undang-undang terorisme negara itu, kata Alex Adam Faisal, juru bicara pengadilan, menambahkan keenamnya menerima putusan dan tidak segera mengajukan banding.

ISIS di Irak dan Suriah pada saat itu mengatakan, melalui kantor berita Amaq, bahwa mereka bertanggung jawab atas insiden tersebut, tetapi polisi Indonesia menolak klaim itu.

Menurut laporan media setempat, sebagian besar korban diiris lehernya.

Lebih dari 150 narapidana terlibat dalam kerusuhan itu dan puluhan bisa mendapatkan senjata, termasuk senapan, yang digerebek dari tempat penyimpanan senjata yang disita.

Indonesia telah berjuang melawan militansi di penjara, menurut analis keamanan Stanislaus Riyanta, yang mengatakan beberapa ekstremis menguasai pengaruh di penjara dan telah berhasil meradikalisasi narapidana lainnya.

Sementara penerapan hukuman mati telah menurun secara global, Indonesia menghukum mati 117 orang tahun lalu, sebagian besar karena pelanggaran terkait narkoba, meningkat 46 persen menurut Laporan Hukuman Mati 2020 Amnesty International.

← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News