Skip to content

Mengapa beberapa kantong di Indonesia tetap bebas COVID sementara kasus di negara itu terus melonjak melewati 1 juta

📅 February 09, 2021

⏱️4 min read

Karena jumlah kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah, dua kelompok tradisional terpencil belum mencatat satu kasus pun di seluruh pandemi.

Negara ini mencapai 1 juta kasus COVID-19 pada akhir bulan lalu, hampir dua minggu setelah vaksin yang dikembangkan oleh CoronaVac China diluncurkan. Namun di antara setidaknya dua suku di Jawa Barat - masyarakat Baduy dan Kasepuhan Ciptagelar - tidak ada kasus positif yang terdeteksi.

Seorang pria membakar kayu untuk memasak dengan menggunakan panci tradisional yang besar

Seorang ahli epidemiologi merekomendasikan orang Baduy menjalani tes untuk memastikan komunitas mereka benar-benar bersih. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz. )

Iron Rustandi, seorang petugas kesehatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mengatakan, dia "mengapresiasi warga Baduy yang mengendalikan COVID-19".

Suku Baduy yang saat ini berpenduduk sekitar 12.000 jiwa tinggal di gugusan 65 desa di pelosok 50 kilometer persegi di Pegunungan Kendeng di Provinsi Banten, 160 kilometer dari Ibu Kota Jakarta.

Mereka menyebut diri mereka sebagai "Kanekes", dan merupakan kelompok kecil orang Sunda, kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia.

Suku Kanek mengasingkan diri pada abad ke-16, menolak pengaruh luar untuk mempertahankan pandangan mereka dan nilai-nilai masyarakat tradisional Sunda.

Siapa orang Baduy?

Two men crossing a bridge made from a bamboo with a river flowing underneath

Tidak ada infrastruktur modern di desa-desa tempat tinggal orang Baduy. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz. )

Ada dua kelompok utama Baduy - Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Suku Baduy Dalam secara ketat mempraktikkan cara hidup tradisional mereka dan dianggap sebagai pelindung keseimbangan dengan alam.

Misalnya, Baduy Dalam tidak menggunakan sabun saat mandi dan tidak menggunakan deterjen untuk mencuci pakaian karena tidak ingin mencemari air yang bagi mereka merupakan sumber kehidupan.

Mereka mengenakan kemeja putih dan penutup kepala sebagai tanda kesucian, serta rok abu-abu.

Secara historis, mereka memiliki kontak yang sangat terbatas dengan orang luar.

A man walking down aslude with barefoot

Baduy Dalam mempertahankan cara tradisional mereka termasuk tinggal di rumah yang terbuat dari bambu dan kayu. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz. )

Baduy Luar, yang bisa dikenali dari pakaian hitamnya, tinggal di sekitar 40 desa di sekitar Baduy Dalam, sebagai penyangga.

Mereka melindungi kesucian Baduy Dalam dari pengaruh dunia luar.

Meski masih tinggal di daerah terpencil, Baduy Luar tidak seketat budaya tradisional, dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas dengan cara yang dirancang untuk membantu menopang Baduy Dalam.

Mereka menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak sembarangan menebang pohon.

Mereka membatasi penggunaan teknologi.

Masyarakat Baduy Dalam dilarang menggunakan listrik, akibatnya tidak ada televisi atau radio di rumah mereka, apalagi gadget lainnya.

Masyarakat Baduy juga membatasi interaksi dengan pihak luar dan meminta siapa saja yang masuk ke desa Baduy untuk menghormati tradisi masyarakatnya.

Tinggal di rumah, tidak ada pengunjung yang diizinkan

A man sitting on the floor with a kid in the background

Jaro Saija adalah pemimpin suku Baduy dan melarang rakyatnya pergi ke beberapa daerah, seperti Ibukota Jakarta. ( Detik: Bahtiar Rivai )

Suku Baduy mengikuti arahan seorang pemimpin yang dikenal sebagai "Jaro".

Tokoh adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, mengatakan, pihaknya melarang Baduy pergi ke tempat-tempat seperti Jakarta, Tangerang dan Bogor karena dianggap hotspot penularan COVID-19.

“Untuk orang Baduy saya tegaskan tidak boleh kemana-mana, harus tinggal di rumah,” ujarnya.

Pak Saija mengatakan warga Baduy yang sudah merantau diminta pulang kampung, namun sebelum memasuki pemukiman tradisional, mereka terlebih dahulu harus menjalani pemeriksaan kesehatan.

Two kids eating fruits know as rambutan in bahasa Indonesia

Baduy memiliki sistem sekolah sendiri untuk anak-anak mereka karena mereka terputus dari dunia luar. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz.)

"Kami menjamin pemukiman Baduy bebas dari penyakit mematikan ini," kata Saija. "Kami juga menjaga agar pengunjung yang ingin masuk ke tanah adat Baduy akan menjalani pemeriksaan kesehatan."

Mr Saija mengatakan penduduk Baduy telah mengikuti langkah-langkah kesehatan.

“Kami juga mengikuti dan melaksanakan rekomendasi Pemerintah seperti cuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker,” ujarnya. "Orang Baduy Luar juga mencuci tangan pakai sabun karena boleh pakai sabun."

A woman sitting on the floor and weaving fabric for cloth

Orang Baduy melestarikan tradisi dan budaya mereka dengan membatasi interaksi di luar desa mereka. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz. )

Pada masa awal pandemi, tidak ada pengunjung atau wisatawan yang diperbolehkan menghadiri ritual adat di desa Baduy yang biasanya terbuka untuk umum tersebut.

Selama berbulan-bulan tidak ada pengunjung karena penduduk desa melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa dengan bertani di sawah, beternak lebah, mengolah gula aren dan kain tenun tangan.

“Sebenarnya sampai saat ini [orang luar] masih dilarang masuk ke daerah Baduy, namun ada beberapa pengunjung yang datang pada hari Sabtu dan Minggu, jadi menurut kami yang terpenting bagi kami sekarang adalah mereka secara ketat mematuhi persyaratan kesehatan,” kata Pak Saija. .

Persyaratan mengunjungi pemukiman masyarakat Baduy telah diperketat untuk mencegah penularan COVID-19 dan semua pintu masuk kawasan tanah adat sudah dilengkapi bak cuci tangan.

Salah satu syarat untuk dapat mengunjungi desa Baduy adalah menunjukkan surat hasil rapid antigen test.

"Kami menolak wisatawan yang tidak mematuhi itu," kata Saija.

Selain upaya untuk menekan penyebaran virus dengan mematuhi protokol kesehatan, Saija mengatakan masyarakat Baduy juga telah beralih ke hubungan spiritual mereka.

"Kami berkumpul dan berdoa untuk keselamatan warga Baduy, kami juga melindungi batas wilayah dengan doa dan mantra," kata Saija.

Baduy masih berisiko terkena turis

A man and a kid behind him walk in a pathway outside traditional houses.

Tinggal di rumah bisa jadi penyebab COVID-19 belum ditemukan di kalangan masyarakat Baduy. (Foto : WatchdoC, Ekspedisi Indonesia Biru, Suparta Arz. )

Dr Windhu Purnomo, ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan komunitas tertutup cenderung aman dari penularan COVID-19.

“Upaya masyarakat Baduy untuk tetap di satu tempat, membatasi mobilitas mereka, sebenarnya adalah kuncinya,” kata Dr Purnomo. “Tapi saya khawatir karena turis masih diperbolehkan masuk. "Bahkan jika Anda membawa hasil tes antigen, tetap ada risiko penularan. “Katakanlah syaratnya adalah hasil tes yang berlaku selama tiga hari terakhir. Bagaimana jika turis itu baru tertular kemarin? Ini bisa bocor dan berisiko bagi Baduy.”

Dr Purnomo mengatakan, untuk memastikan tidak ada kasus di masyarakat, akan lebih baik jika seluruh masyarakat Baduy diuji.

"Kapasitas uji perlu ditingkatkan, tidak hanya di Baduy tapi di seluruh wilayah di Indonesia, mengingat kapasitas uji kita masih salah satu yang terendah di dunia, kita nomor 159 dari 202 negara," ujarnya.

Dr Purnomo mengatakan langkah penting berikutnya untuk menjaga Baduy agar tidak tertular virus corona adalah menutup akses sementara ke wisatawan.

← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News