Skip to content

Penyelamatan kapal selam Indonesia berakhir dengan pertanyaan seputar perangkat keras militer

📅 June 03, 2021

⏱️3 min read

`

`

Indonesia mengakhiri upaya penyelamatan pada hari Rabu untuk mengambil kapal selam yang dilanda bencana yang menelan 53 nyawa dan menimbulkan pertanyaan tentang pemeliharaan peralatan militer di negara berpenduduk terbesar keempat di dunia itu.

Orangorang melempar bunga dan kelopak dengan nama awak kapal selam KRI Nanggala402 yang tenggelam dari kapal saat berdoa di laut dekat Labuhan Lalang, Bali, Indonesia 26 April 2021, dalam foto ini diambil oleh Antara Foto/Fikri Yusuf/via Reuters

Orang-orang melempar bunga dan kelopak dengan nama awak kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam dari kapal saat berdoa di laut dekat Labuhan Lalang, Bali, Indonesia 26 April 2021, dalam foto ini diambil oleh Antara Foto/Fikri Yusuf/via Reuters

Kapal selam berusia 44 tahun itu kehilangan kontak dengan angkatan laut Indonesia pada 21 April saat mempersiapkan latihan torpedo di Laut Bali, memicu upaya pencarian dan penyelamatan internasional yang putus asa untuk menemukannya sebelum pasokan oksigen habis.

Ketika kapal itu ditemukan beberapa hari kemudian dalam tiga bagian, pihak berwenang mengakui kesulitan memulihkan kapal selam dari kedalaman 840 meter (2.756 kaki).

Juru bicara Angkatan Laut Julius Widjojono mengatakan tidak ada rencana untuk melanjutkan upaya pencarian setelah kerjasama dengan China berakhir.

"Penyelamatan sudah selesai," katanya kepada Reuters pada hari Rabu, menambahkan bahwa bagian-bagian kapal tetap berada di dasar laut.

China mengerahkan tiga kapal untuk membantu penyelamatan bulan lalu.

Tragedi tersebut telah menyoroti kekhawatiran tentang kondisi perangkat keras militer Indonesia, dengan beberapa awak kapal selam senior menyatakan kapal, KRI Nanggala-402, tidak dirawat secara optimal.

Sebelum tenggelam, komandan kapal selam, Letnan Kolonel Heri Oktavian, telah mengeluh kepada seorang teman, jurnalis dan analis militer Edna Caroline Pattisina, tentang penundaan perbaikan yang dijadwalkan pada tahun 2020, katanya kepada Reuters.

Kapal itu terakhir dirombak di Korea Selatan pada 2012, tambahnya.

Berbicara dengan syarat anonim, seorang awak kapal selam senior Indonesia mengatakan kepada Reuters bahwa perombakan oleh pembuat kapal milik negara PT PAL telah tertunda karena pandemi virus corona.

PT PAL menolak berkomentar mengenai hal tersebut.

Dua awak kapal selam Indonesia, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah ini sensitif, juga mengingat serangkaian kecelakaan maritim di Nanggala, termasuk satu pada tahun 2017, ketika kapal selam itu tiba-tiba turun 84 meter (276 kaki) di perairan Bali Utara setelah air masuk ke tabung snorkel.

Insiden serupa pada tahun 2014 melihat Nanggala jatuh 17 meter (56 kaki) di Bali Barat karena masalah yang sama, kata awak kapal selam lainnya.

"Ketika kapal selam itu jatuh, itu bukan peristiwa biasa, bisa dikatakan situasi darurat," tambahnya. "Kami membutuhkan reaksi cepat untuk menyelesaikannya."

Achmad Taufiqoerrochman, mantan wakil kepala staf angkatan laut, mengingat bahwa Nanggala telah mengalami masalah koneksi dengan tabung torpedonya pada tahun 2016, tetapi menambahkan bahwa masalah itu kemudian diselesaikan.

Juru bicara Angkatan Laut Julius Widjojono mengatakan dia belum pernah mendengar tentang insiden itu.

Namun analis keamanan Natalie Sambhi, direktur eksekutif kelompok riset militer Verve Research, mengatakan itu bukan pertama kalinya kelemahan militer Indonesia terungkap.

"Ini bukan insiden yang terisolasi dari kemampuan Indonesia, atau semacam insiden besar dengan kemampuan Indonesia, apakah itu angkatan laut atau angkatan udara," kata Sambhi.

Indonesia telah mengalami tiga bencana pesawat C-130 sejak 2009, tambahnya.

“Itu penting, untuk memikirkan keadaan keseluruhan teknologi militer mereka dan bagaimana hal itu dipertahankan,” kata Sambhi.

`

`

Indonesia membatalkan tawaran penyelamatan untuk kapal selam KRI Nanggala

KRI Nanggala menghilang setelah meminta izin untuk menyelam saat latihan torpedo langsung di Laut Bali.

Kapal berusia 40 tahun itu ditemukan beberapa hari kemudian, terbelah menjadi tiga bagian.

Upaya sejauh ini gagal untuk mengambil puing-puing dari kedalaman lebih dari 800m. Penyebab bencana masih diselidiki.

"Penyelamatan sudah selesai," kata juru bicara angkatan laut Julius Widjojono kepada kantor berita Reuters.

Tim gabungan Indonesia-China menyelam 20 kali untuk mengumpulkan foto, video, dan bagian dari kapal selam yang tenggelam, kata angkatan laut Indonesia dalam sebuah pernyataan.

Tak satu pun dari 53 mayat di kapal telah diambil.

"Keluarga kami berharap mereka bisa mengangkatnya," kata Sudarmaji, ayah dari salah satu awak, seperti dikutip kantor berita AFP sesaat sebelum pengumuman Rabu untuk mengakhiri operasi penyelamatan.

“Tidak masalah jika itu memakan waktu lama atau kita harus meminta lebih banyak bantuan dari negara lain,” tambahnya.

Keluarga awak kapal selam KRI Nanggala402 yang tenggelam bereaksi saat mengunjungi lokasi kecelakaan untuk memberikan penghormatanHAK CIPTA GAMBARREUTERS keterangan gambarTak satu pun dari tubuh kru telah diambil

Segera setelah kapal selam itu hilang, militer Indonesia mengkonfirmasi bahwa puing-puing, termasuk sajadah, telah ditemukan di daerah di mana kapal itu menghilang.

Hilangnya KRI Nanggala menyebabkan operasi pencarian internasional dengan AS, Australia, Singapura, Malaysia, dan India memberikan bantuan.

`

`
← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News