Skip to content

Platform e-commerce memanfaatkan ekonomi syariah Indonesia yang berkembang pesat

📅 December 30, 2020

⏱️3 min read

Laporan Kondisi Ekonomi Islam Global dari Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2020/2021 mengungkapkan kabar positif terkait ekonomi syariah Indonesia. Posisi Indonesia meningkat dalam indeks ekonomi syariah global menjadi peringkat keempat, dari peringkat kelima pada 2019.

Platform e-commerce memanfaatkan ekonomi syariah Indonesia yang berkembang pesat

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menerima laporan tersebut secara virtual dari Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai Abdullah M. Al-Awar pada 17 November. Ma'ruf mengaitkan pertumbuhan positif tidak hanya dengan belanja domestik yang kuat tetapi juga inovasi produk syariah di dalam negeri.

Dihubungi terpisah, Kepala Divisi Pembayaran Digital dan E-commerce Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Umar Adityawarman mengatakan, secara global, ekonomi syariah telah menunjukkan harapan yang besar.

Ia mencontohkan data dari GIEI bahwa saat ini nilai ekonomi syariah mencapai US $ 200 miliar di seluruh dunia. Di Indonesia nilainya mencapai US $ 114 miliar yang sebagian besar berasal dari konsumsi produk makanan dan minuman halal. Tak heran, kata Umar, tahun ini platform e-commerce lokal telah meluncurkan divisi syariah di bisnisnya. Berfokus pada penjualan produk halal, divisi bisnis ini tumbuh subur di tengah semakin banyaknya produsen dan konsumen bisnis halal di Indonesia.

Garri Juanda, Head of Tokopedia Salam, mengatakan platform e-commerce ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, mencakup semua aspek seperti: penyediaan produk halal, busana muslim, produk keuangan syariah dan masih banyak lagi. “Sebagai perusahaan teknologi lokal, Tokopedia juga berperan dalam mendorong pemerataan ekonomi syariah di Indonesia melalui Tokopedia Salam. Tokopedia Salam sendiri memberikan solusi komprehensif yang mencakup elemen industri hulu dan hilir dalam ekosistemnya, ”tulisnya dalam email. “Jadi ekosistem tidak hanya menyediakan produk dan layanan [berbasis syariah], tetapi juga menyediakan solusi pembayaran syariah bagi umat Islam yang membutuhkan produk dan layanan berkualitas tinggi,” lanjutnya.

Tokopedia Salam saat ini menghadirkan lebih dari 21 juta produk unggulan, diproduksi oleh lebih dari 700.000 penjual untuk memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama makanan dan minuman, fashion, keperluan ibadah, serta kosmetik.

Ekosistem Tokopedia Salam juga menawarkan paket perjalanan umroh (haji minor) hingga alat investasi syariah seperti Tokopedia Emas (untuk investasi emas) dan Reksa Dana Syariah (untuk investasi reksa dana).

Ekosistem tersebut juga telah bermitra dengan lembaga sertifikasi halal Majelis Ulama Islam (MUI). Pada saat yang bersamaan, ekosistem tersebut juga mendorong zakat sekaligus mewadahi umat Islam untuk bersedekah melalui lembaga ternama seperti NU Care-LAZISNU, Dompet Dhuafa, Badan Zakat Nasional, Rumah Zakat dan masih banyak lagi.

Sementara itu, M. Yusuf Helmy, Deputy Director Karim Consulting Indonesia, mengatakan survei konsumen baru-baru ini mengungkapkan bahwa mayoritas konsumen - terhitung sekitar 80 persen - memuji inisiatif baru Tokopedia untuk menjual produk ramah Muslim. “Lini bisnis baru dapat mengakomodasi aspirasi umat Islam yang ingin memastikan bahwa semua transaksi e-commerce mereka halal,” kata Yusuf. Misalnya, Tokopedia Salam tidak mengakomodasi pembayaran kartu kredit, yang dapat mendorong praktik riba (penerapan bunga pinjaman).

Namun Yusuf mengatakan, pada saat yang sama, Indonesia masih belum memiliki cukup banyak perusahaan fintech yang bergerak di bidang ekonomi syariah. “Dibandingkan bank syariah di Indonesia yang berkembang pesat, Indonesia masih kekurangan perusahaan fintech yang bisa memberikan layanan keuangan syariah. Ini juga bisa menjadi motivator bagi perusahaan fintech ini untuk benar-benar memperluas cakupan layanan yang mereka tawarkan [ke produk syariah juga], ”ujarnya.

Umar, sementara itu, mencontohkan minimnya ketersediaan data pelaku usaha ekonomi syariah Indonesia, khususnya produsen dan manufaktur, sebagai hal yang dapat menghambat perkembangan ekonomi syariah di tanah air.

“Idealnya, kami memperbarui data setiap bulan, sehingga kami dapat mempercepat kegiatan ekspor kami [produk syariah] sambil menjangkau pasar yang belum tersentuh,” katanya. “Kami juga perlu mengarahkan pandangan kami untuk mengekspor produk ekonomi syariah kami di luar anggota Organisasi Negara Islam. Misalnya, ada banyak Muslim di Inggris [Britania Raya] dan juga di AS [Amerika Serikat] sekarang. Sayang kancah global hanya mengenal dua merek Indonesia yang halal - [merek mie instan] Indomie dan [merek kosmetik] Wardah padahal sebenarnya kita punya lebih dari itu, ”lanjutnya.

Namun, untuk dapat memasarkan merek-merek tersebut ke pentas global dengan lebih efisien, ketersediaan data yang memadai dan mutakhir sangat diperlukan.

Garri mengatakan Tokopedia Salam juga akan berupaya untuk bekerja sama dengan lebih banyak mitra ekonomi syariah di Indonesia, terutama yang tergabung dalam kategori usaha mikro, kecil dan menengah, yang dipandang penting untuk membantu pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi COVID-19.

← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News