Skip to content

Tari Topeng: Saat Ekspresi Jiwa Tercurah untuk Alam dan Sang Pencipta

📅 May 04, 2021

⏱️5 min read

`

`

Seni Tari Topeng Losari Cirebon dipercaya sudah ada sejak 400 tahun silam, manifestasi seni yang berasal dari refleksi diri terhadap alam dan sang pencipta. Uniknya ia ditarikan hanya oleh perempuan.

Bumi kerap direpresentasikan amat dekat dengan sosok perempuan. Dan untuk itu, perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan. Termasuk dalam seni tradisi menari.

Tarian Topeng asal Losari Cirebon adalah manifestasi budaya itu. Merunut sejarah, kesenian ini lahir lebih kurang 400 tahun lalu dengan Pangeran Angkawijaya dipercaya sebagai pencipta tarian ini. Beliau konon terinspirasi dari alam Sungai Cisanggarung.

Cisanggarung waktu itu ibarat permata hijau dimana sungai nan permai mengalir. Setidaknya sampai abad ke-19 ia ditumbuhi rimbunan bakau, sebelah selatannya ada hutan lebat, lansekap pegunungan dengan sawah menguning siap panen. Deskripsi itu tergambar dalam catatan Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java, (Oxford University Press, 1978).

Noor Anani Maska Irman (44), mempercayai sepenuhnya jika kesenian ini lahir ketika Tuhan Sang Pencipta sedang tersenyum. Tentang kenapa perempuan memainkannya, ia tak begitu paham. Tapi pada hakikatnya, perempuan adalah salah satu bentuk lokus manifestasi Tuhan yang sempurna.

“Bagi saya, tari Topeng Losari adalah manifestasi bagaimana perempuan memandang ruang hidup melalui media seni,” kata perempuan kelahiran Cirebon ini.

Sejumlah anak didik Noor Anani Maska Irman (44), latihan menari di Sanggar Purwa Kencana, Desa Astanalanggar, Losari, Kabupaten Cirebon.

Separuh usianya dibaktikan untuk menjaga keajekan kesenian ini dari terpaan kesenian modern. Memiliki kegalauan mendalam pada budayanya sendiri yang seakan tergusur waktu,  Nani hanya mencoba patuh pada pesan buyutnya. Senantiasa menari dalam keadaan apapun.

Nani biasa melatih menari di Sanggar Purwa Kencana, Desa Astrajingga, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Sanggar yang kini dia teruskan sebagai generasi ke tujuh.

Riuh celotehan anak-anak belajar menari menjadi pemandangan unik. Tentu saja, karena mereka berbeda. Punya ketertarikan pada penciptaan dari leluhur melalui seni menari adalah hal langka bagi anak-anak masa kini.

`

`

Sore itu latihan dimulai, Fitriani Rahmawati (18) menarikan Tari Pamindo atau Panji Sutrawinangun yang menceritakan seorang tokoh bernama Panji Sutrawinangun, kesatria dari Negeri Urawan. Gerakan tarinya gagah, lincah dan trengginas, meski ditarikan oleh perempuan.

Tari Topeng Losari memainkan beberapa babak tarian seperti, Panji, Pamindo (Samba), Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Setiap topeng menceritakan perjalanan hidup dan watak manusia.

Noor Anani Maska Irman (44) alias Nani, menarikan watak Klana pada Tari Topeng Losari, di Sanggar Purwa Kencana, Desa Astanalanggar, Losari, Kabupaten Cirebon. Tari topeng Losari merupakan tarian yang diciptakan Panembahan Senopati atau Pangeran Angkawijaya, 400 tahun lalu.

Panji, misalnya, menceritakan karakter manusia yang baru lahir, yakni suci dan bersih. Samba mewakili karakter anak-anak atau remaja. Rumyang menggambarkan manusia menjelang dewasa yang bergejolak. Tumenggung mencitrakan manusia dewasa. Dan Klana adalah gambaran manusia yang dursila.

Sebut Nani, menari pada gaya Losari, yang diutamakan bukanlah watak, melainkan lebih pada cerita dan penjiwaan karakternya. Karena itu, topeng Losari biasa disebut topeng lakonan atau topeng wong.

Menonton tarian ini sekaligus mempelajari beberapa mitologi dari ajaran agama dan moralitas. Tari adalah cara manusia memahami dan mengimajinasikan ihwal daya kreatif dari proses penciptaan kehidupan.

Manusia melihat tubuhnya sebagai perwujudan yang serupa dengan tubuh alam raya sehingga gerakan tubuh dimaknai sebagai sesuatu yang menempatkan manusia pada ruang dan waktu.

Kedok topeng Cirebon berbaur dengan nama-nama wayang purwa dengan karakter sama, yaitu topeng panji dengan Arjuna, topeng samba dengan Pamindo, dan klana dengan Rahwana. Agaknya, menari menjadi medium komunikasi antara manusia dan alam yang selama ini dianggap hening.

Meskipun tanpa kata-kata, tapi tubuh bercakap-cakap melalui gerakan. Bahkan melalui tubuh penari tersematkan doa dan sembah. Sebelum tarian dimulai dan gending bertalu, nyajen dan nyambat terlebih dulu kerap dilakukan. “Menari itu seperti berdoa,” ujarnya.

Sebelum tari dimulai dan gending bertalu, acara nyajen dan nyambat terlebih dulu dilakukan.

Menariknya, sajen ruwatan memakai hasil bumi. Alasannya Nani bilang, karena jauh sebelum dijadikan seni pertunjukan–tradisi Tari Topeng Losari–selalu hadir ketika menyambut nyadranan seperti sedekah laut maupun ruwatan bumi.

Hal ini menunjukan bahwa sosial masyarakat dahulu pandai bersyukur sekalipun lewat seni. Tapi juga ruang dalam seni tari itu melampui tentang manusia sebagai objek melainkan manusia dapat merasakan dunia leluhur, dan juga dunia spiritual Hyang.

Dan Nani percaya, tarian tradisional tak sekedar asal menari. Tariannya mengandung banyak ajaran hidup. Secara fisik tersirat dalam gerakan tari topeng Losari yaitu pada gaya galeong (sikap kayang), gantung sikil (menggantung kaki), dan pasang naga seser (kuda-kuda). Katanya, instrumen gerak tarian selalu tentang keselarasan alam, makhluk dan Tuhan pencipta.

`

`

Makna gaya galeong, penggambaran siklus bumi, fase hidup, dan alur kehidupan manusia. Pada gerak tarian ini secara intuisi juga menyimbolkan spritualitas.

“Bahwa manusia butuh Tuhan dan bumi sebagai pijakan untuk manusia. Maka teguhkanlah kebaikan di muka bumi.”

Gantung sikil, mengangkat kaki ke langit menyimbolkan ibu bumi. Dalam ajaran Islam, Surga ada di telapak kaki Ibu. Artinya hormat pada Ibu maka hidup akan selamat. Dan banyak adat dan budaya bangsa ini memandang alam sebagai Ibu.

Pada gerakan pasang naga seser, Nani menjelaskan, manusia itu miliki kekuatan. Meski memliki kekuatan, gerakan ini seperti diberi batas. Tak begitu bebas dan keras. Dan pesan yang tersirat adalah setiap manusia perlu menyadari dirinya memiliki keterbatasan sebagai makhluk hidup.

Setiap topeng menceritakan perjalanan hidup dan watak manusia. Panji, misalnya, menceritakan karakter manusia yang baru lahir, yakni suci dan bersih. Samba mewakili karakter anak-anak atau remaja. Rumyang menggambarkan manusia menjelang dewasa yang bergejolak.

Selain gerakan, mimik topeng kerap mempertontonkan watak keras tetapi dinamis. Sesungguhnya manusia itu mempunyai dua muka. Yang asli dan yang wujud. Yang asli itu bertopeng dan yang penuh kepalsuan adalah wajah sendiri yang ditutupi topeng.

Paradoks pada tarian Losari merupakan antitesis terhadap sikap yang kasar dengan filosofi sederhana: sekasar apa pun seorang tokoh, ia tetap menyimpan kelembutan.

Kekhasan Topeng Losari dengan yang lain tampak pada musik gamelan yang mengiringi gerak penari. Pusat tari topeng Losari tak lain terfokus pada kotak yang diletakkan di tengah. Itu yang disebut Nani sebagai orbit.

Kendati penari yang lebih sering membelakangi penonton. Tradisi mereka lebih mengharuskan mereka menghormati kekuatan roh leluhur yang berada di panggung, di antara para Nayaga, penabuh gamelan.

“Tak peduli penonton sedikit atau banyak mereka suka atau tidak, saya harus menari dengan energi dan penjiwaan sepenuhnya,” kata Nani merumuskan prinsip tarian yang tulus ini.

Itu ia buktikan ketika banyak pelaku seni coba menyelingi seni pertunjukannya dengan yang disukai penonton. Dia menolaknya. Ada semacam jargon yang kadung melekat di tarian ini “Menarilah untuk Tuhan, Bumi dan Tubuhmu”.

Tari topeng Losari Cirebon telah bertahan selama tujuh generasi, apakah ia akan bertahan di masa mendatang kelak? Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Bertahan dalam Budaya Serba Instan

Boleh dikatakan tari ini hampir punah. Oleh Dewi dan Sawitri, penari generasi keenam, tarian ini dilestarikan di Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari pada 1984.

Sebelum meninggal di tahun 1999, Sawitri mewariskan kepada Nani, yang mencoba melestarikan warisan leluhurnya dengan tetap mengajarkannya kepada sejumlah murid tanpa motif mencari keuntungan, bahkan serupiah pun.

Terletak di belakang rumah Dewi-Sawitri, sanggar itu tersembunyi dari pandangan mata diapit kebun dan rumah warga. Berukuran sekitar 100 meter persegi, atap sanggar yang didirikan tahun 1984 itu sudah banyak yang bocor. Pagar bambunya reyot. Meski begitu banyak prestasi bersemayam di sini.

Bagi Nani, keinginan terbesarnya, membentuk karakter bukan sekedar gerak tarian semata. Tapi tentang bagaimana 20-an anak didiknya bersikap, dan bertutur. Budaya Losari jangan sampai hilang, katanya.

Sekalipun Topeng Losari seperti menapaki jalan panjang menghadapi arus modernitas yang serba instan, kesenian ini harus hidup sebagai bukti seni tradisi lahir dari rahim alam yang lestari.

Mungkin untuk itu, menari bentuk lain dari memperjuangkan lingkungan. Sebab tak mungkin ada tradisi seni ketika tak ada ruang hidup sudah berbeda, kata Nani.

`

`
← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News