Skip to content

Terungkap, inilah alasan penemuan vaksin Covid-19 bisa cepat

📅 November 09, 2020

⏱️2 min read

Jakarta, - Kemajuan teknologi mendorong penemuan vaksin, termasuk untuk Covid-19, dilakukan lebih cepat dari sebelumnya. “Di zaman kuno, tentu saja, Anda harus mendapatkan agen murni dulu. Setelah itu diperbanyak, kemudian hanya disiapkan sebagai vaksin. Itu butuh waktu lama. Saat ini, teknologi telah memungkinkan kami melakukannya dengan cepat. Tidak diperlukan lagi agen penyakit dan dapat disintesis. jadi bisa sangat cepat. Dulu butuh waktu lama untuk menemukan bibitnya. Sekarang hanya butuh satu atau dua bulan untuk menemukan bibitnya, ”kata Prof Ngurah Mahardika, Virolog di Universitas Udayana, belum lama ini.

hospital-3089884 1920

Prof Ngurah Mahardika mengatakan setidaknya ada empat jenis vaksin yang dibedakan berdasarkan bahan dasarnya. Yang pertama berdasarkan virus murni yang dimatikan agar tidak berbahaya bagi manusia, ada yang berdasarkan DNA atau mRNA, yang ketiga adalah vaksin berbasis adenovirus, dan yang terakhir adalah vaksin berbasis protein. “Vaksin berbasis vaksin ini memiliki kelebihan dan kekurangan, tentunya vaksin berbasis virus mematikan yang saat ini sedang diuji di Indonesia merupakan jenis yang paling umum, sehingga peraturan penggunaannya jauh lebih ringkas. Sedangkan vaksin berbasis DNA dan adenovirus belum memiliki contoh yang beredar di masyarakat. pengaturannya memakan waktu lama, ”jelas Prof Ngurah Mahardika.

Meskipun teknologi mempercepat penemuan vaksin baru, faktor kunci yang tidak boleh dikesampingkan dalam prosedur ini adalah memastikan tingkat keamanan. Pada dasarnya peneliti dan pengembang vaksin tidak berkompromi pada aspek kualitas, kegunaan dan keamanan, termasuk keamanan vaksin Covid-19 yang akan ditemukan, harus terjamin. “Untuk aspek keamanan dimulai dari fase praklinis yang diujicobakan pada hewan, kemudian fase I melibatkan relawan manusia, fase II melibatkan ratusan relawan, dan fase III melibatkan ribuan relawan. Dalam semua fase, aspek keselamatan dan kegunaan menjadi perhatian. Ini serius. Apalagi pada Tahap III yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang, ”jelas Prof. Ngurah Mahardika.

Tidak berhenti sampai disitu, setelah beredar di masyarakat, vaksin akan terus dipantau dan diperebutkan terus menerus untuk menjamin keamanan vaksin yang beredar nantinya. Perlu juga dicatat bahwa Indonesia sangat mungkin mengembangkan vaksin Covid-19 secara mandiri. Namun, kerja sama selama pandemi Covid-19 seperti saat ini bukanlah hal yang tabu. Kerja sama bertujuan untuk mendapatkan data yang berkualitas. Peneliti dan ilmuwan di Indonesia juga membuka data studi dalam negeri untuk berkontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan dan mendapat masukan positif dari peneliti asing. “Tanpa kerjasama saya kira kita mampu, tapi untuk mencapai kemajuan yang pesat diperlukan kerjasama antar negara dan dunia ilmu pengetahuan,” pungkas Prof. Ngurah Mahardika.

Selain kabar vaksin bisa ditemukan lebih cepat, kabar baik lainnya datang dari angka kesembuhan Covid-19 per 1 November 2020 yang terus meningkat. Tingkat kesembuhan seluruh kasus Covid-19 mencapai 82,84%. Laju pemulihan dan penyelesaian isolasi meningkat dari minggu sebelumnya yaitu 80,51%. Kemudian penelusuran dan pengujian per 1 November 2020 mencapai lebih dari 4,5 juta spesimen dan banyak diantaranya yang negatif.

Perlu diingat, #pakaimasker, #jagajarak minimal 1 meter, dan #cucitangan dengan sabun, masih menjadi langkah preventif terbaik hingga saat ini. Kita perlu terus disiplin dalam mempraktekkan langkah 3M ini dalam satu paket agar terhindar dari penyakit.

← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News