Skip to content

Tiga wanita ingin ganja dilegalkan untuk membantu anak-anaknya

📅 November 22, 2020

⏱️2 min read

Tiga ibu dari anak-anak yang sakit berjuang untuk perubahan hukum yang memungkinkan penggunaan ganja untuk tujuan medis. Bersama-sama, mereka mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi pada Kamis untuk uji materi UU Narkotika 2009. Secara khusus, Dwi, Santi dan Novia menuntut revisi Pasal 6 Ayat 1 UU tersebut, yang mengklasifikasikan ganja sebagai narkotika tipe-1 dan dengan demikian mengesampingkan penggunaannya untuk tujuan medis.

marijuana

Kuasa hukum penggugat, Ma'ruf Bajammal dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH Masyarakat), mengatakan kliennya selama ini berjuang mendapatkan akses ganja untuk merawat anak-anaknya yang sakit. “Klien pertama saya, Dwi punya anak yang menderita pneumonia,” kata Ma'ruf, Kamis seperti dilansir Kompas.com . Ia menjelaskan, Dwi mendapat informasi bahwa minyak cannabidiol (CBD) yang diekstrak dari tanaman ganja bisa membantu mengobati penyakit tersebut. “Dia menyuruh anaknya menjalani terapi CBD di Australia pada 2016, dan kondisi anak mulai membaik,” katanya, seraya menambahkan bahwa keluarga tidak dapat melanjutkan terapi di rumah.

Kliennya yang lain, Santi, memiliki anak yang kesehatannya menurun sejak masuk Taman Kanak-kanak. Seorang teman asing pernah merekomendasikan agar Santi mengolah anaknya dengan minyak CBD, namun ia tidak berani mencoba cara tersebut karena batasan yang diatur dalam UU Narkotika.

Sementara itu, Novia ingin menggunakan minyak CBD untuk mengobati penyakit epilepsi anaknya. Menurut Ma'ruf, kriminalisasi penggunaan medis narkotika tipe-1 bertentangan dengan konstitusi yang menjamin hak setiap warga negara atas perawatan medis. “Larangan narkotika tipe-1 untuk keperluan medis bertentangan dengan Klausul 1 Pasal 28 UUD,” kata Ma'ruf.

Inilah yang perlu Anda ketahui tentang hukum ganja di Indonesia Pasal tersebut menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesejahteraan mental dan fisik, atas tempat tinggal, lingkungan yang aman dan sehat, serta layanan medis. Ma'ruf juga mendalilkan Pasal 6 UU Narkotika bertentangan dengan maksud asli undang-undang yang bertujuan melegalkan narkotika untuk tujuan pengobatan. “Sebagai perbandingan, setidaknya ada 40 negara yang mengizinkan penggunaan minyak CBD untuk keperluan medis, seperti Denmark, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, bahkan salah satu negara tetangga kita, Thailand,” ujarnya.

Selain ketiga individu tersebut, beberapa LSM seperti The Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH Masyarakat) yang berbasis di Jakarta, Lembaga Penelitian Yudisial Indonesia (IJRS) dan Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba), telah juga mengajukan uji materi hukum. Indonesia telah melihat seruan yang meningkat untuk merevisi UU Narkotika 2009 - salah satu undang-undang narkoba paling ketat di dunia. Beberapa kasus profil tinggi telah memicu perdebatan tentang perlunya melegalkan ganja untuk penggunaan medis. Pada 2017, seorang warga Kalimantan Barat bernama Fidelis Arie dijatuhi hukuman delapan bulan penjara dan denda Rp 1 miliar karena menanam dan menggunakan ganja untuk merawat istrinya yang sakit.

Kementerian Cabut Sebutan Ganja Sebagai 'Tanaman Obat' Istri Fidelis, yang meninggal sebulan setelah penangkapannya, menderita syringomyelia, kelainan langka di mana kista terbentuk di dalam sumsum tulang belakang. Dia berargumen di depan pengadilan bahwa kondisi mendiang istrinya telah membaik setelah dia dirawat dengan minyak ganja, karena memungkinkan dia untuk tidur nyenyak dan memberinya nafsu makan.

Pada Juli lalu, Koalisi Advokasi Penggunaan Narkotika untuk Pengobatan, bersama beberapa kelompok masyarakat sipil lainnya, juga menyerukan dekriminalisasi ganja untuk perawatan medis menyusul penangkapan Reyndhart Siahaan , pria berusia 37 tahun asal Jakarta Timur. Reyndhart ditangkap karena diduga mengonsumsi air rebusan mariyuana untuk menghilangkan rasa sakit akibat kompresi sumsum tulang belakang, penyakit yang dideritanya sejak 2015. Studi ilmiah dan bukti anekdotal telah menunjukkan bahwa ganja dapat digunakan untuk tujuan pengobatan, termasuk untuk mengobati mual, nyeri, kehilangan nafsu makan, penyakit Parkinson, epilepsi, kejang otot, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

← PrevNext →
  • Powered by Daily Planet News